Saturday, February 13, 2010

Musim Rebon Cilacap 2003

Nelayan Gembira, Menjelang Lebaran Panen Rebon

CILACAP- Nelayan Cilacap sekarang sedang panen udang rebon. Dalam satu hari setiap nelayan mampu memanen rebon hingga satu ton. Kondisi tersebut membuat nelayan setempat bahagia. Sebab, mereka mempunyai kesempatan yang besar untuk mendapatkan uang guna keperluan persiapan merayakan Lebaran 1424 H.

Seorang nelayan Jarwanto menuturkan, para nelayan memanen rebon dengan penuh gairah karena harganya saat ini cukup lumayan. Harga rebon berkualitas baik mencapai Rp 1.000/kg. Sedangkan harga rebon berkualitas sedang Rp 700/kg. Harga tersebut bagi nelayan sudah cukup lumayan. Sebab, bagi nelayan yang menggunakan jaring apong mampu memanen hingga satu ton per hari.

''Kalau menggunakan jaring apong, sehari kita bisa mendapatkan satu ton rebon. Setelah dijual, hasilnya ya jelas lumayan. Apalagi panen ini terjadi pada saat menjelang Lebaran. Uangnya cukup untuk merayakan Lebaran bersama keluarga,'' ujarnya.

Dijelaskan, rebon hasil panenan nelayan sebagian besar dijual untuk bahan baku terasi. Sebelum dijual rebon tersebut harus dikeringkan dulu di bawah panas matahari. Pada saat turun hujan, nelayan tidak bisa menjemur. Bila proses pengeringannya kurang sempurna, kualitas rebon pun menjadi rendah. Kondisi ini memengaruhi harga jual.

Bagi nelayan yang sudah memiliki alat pengering, faktor cuaca tidak menjadi masalah. Sebab, semua rebon hasil panenan mereka dapat dikeringkan secara sempurna dengan menggunakan alat tersebut.

Kepala Dinas Perikanan dan Kelautan Cilacap, Ir Gunawan mengatakan, nelayan saat ini memang sedang panen rebon. Hasil panenan mereka pun cukup banyak. Meski hasil panenan mereka cukup banyak, tetapi belum semua potensi perikanan di Cilacap telah digarap secara maksimal.

Potensi Peikanan

''Saat ini potensi perikanan pantai di Cilacap mencapai 56.380 ton. Tetapi yang sudah dimanfaatkan baru mencapai 29.841 ton atau baru 52,9 persen. Sedangkan potensi perikanan lepas pantai mencapai 852.600 ton, tapi baru dimanfaatkan 13.508 ton atau 1,6 persen. Potensi tersebut termasuk udang rebon,'' katanya.

Dijelaskan, saat ini kegiatan perikanan di Cilacap didukung delapan tempat pelelangan ikan (TPI), empat bengkel mesin kapal, empat unit galangan kapal, tiga gudang dengan kapasitas 75 ton/unit, dan lima pabrik es.

Sedangkan jumlah kapal nelayan yang ada saat ini mencapai 2.318 buah perahu motor tempel, 1553 perahu tradisional (compreng), 295 kapal motor, dan 134 kapal long line atau eks trawl.

''Kalau semua potensi yang ada sudah dimanfaatkan secara maksimal, saya yakin kesejahteraan nelayan akan meningkat. Sebab, potensi yang belum dimanfaatkan masih cukup besar. Saya yakin udang rebon hasil panenan nelayan yang jumlahnya sudah mencapai puluhan ton, bila dibadingkan dengan potensi yang belum terambil mungkin baru seberapa persennya,'' ujar Gunawan. (ag-82)

http://www.suaramerdeka.com/harian/0311/07/eko13.htm

Panen Rebon Pacitan

Melihat Aktivitas Perajin Remaan di Teleng Ria Pacitan
Asli Pacitan, Bercap Tuban dan Sidoarjo

Bau yang menyengat acap dikeluhkan sebagian orang. Pun tidak sedikit para wisatawan. Namun tak banyak yang tahu, remaan (bahan baku terasi) Teleng Ria Pacitan, diburu pengusaha luar daerah.

WIWIT ROWI, Pacitan

------------

BAU khas langsung menusuk hidung begitu memasuki kawasan wisata Teleng Ria Pacitan sebelah barat. Bahkan, bau remaan itu masih tercium dalam radius satu kilometer lantaran diterpa hembusan angin laut.

Saban hari, di tempat tersebut, sejumlah orang sibuk beraktivitas. Ada yang menggotong rebon (anak udang, red) menggunakan drum plastik. Ada yang menginjak-injak rebon dengan sepatu bot. Ada pula yang menjemurnya.

Sepintas, proses pembuatan remaan di Teleng Ria, sangat sederhana. Rebon yang dibeli dari nelayan langsung ditumpahkan begitu saja pada selembar terpal plastik. Lalu, beberapa orang menginjak-injak hingga hancur.

Setelah sekitar tiga hari dijemur, rebon sudah berubah menjadi remaan yang siap kirim ke Tuban dan Sidoarjo. Kusnanto, 34, seorang perajin remaan setempat, mengatakan harga jualnya berkisar Rp 9 ribu sampai Rp 13 ribu per kilogram.

Namun jumlah pengiriman sangat tergantung bahan. Jika lagi musim, sepekan sekali bisa kirim sampai tujuh ton. Tetapi, kalau tidak musim rebon, satu bulan sekali hanya kirim dua ton. Ini lantaran sekitar lima perajin remaan sudah punya pembeli tetap. ''Kami terus berupaya mempertahankan kualitas tanpa campuran (ikan-ikan kecil),'' katanya.

Begitu juga harga rebon juga tergantung musim. Kalu lagi musim harganya hanya Rp 1.500 per kilogram. Tetapi, kalau rebon sulit didapat, harganya bisa mencapai Rp 3.500 per kilogram.

Memang, awal musim penghujan seperti sekarang ini, merupakan musim panen rebon. Terkadang, ada yang mendapatkan hasil sampai dua ton sekali melaut. ''Musim rebon seperti sekarang ini, per hari bisa mendapat pasokan sampai delapan ton.''

Diceritakan, usaha yang mereka ditekuni itu merupakan warisan turun termurun dari kakek buyutnya. Sebab, dulu saat masih kecil, sudah biasa membantu mengolah rebon menjadi remaan. Namun dari dulu sampai sekarang, proses pengolahannya masih sederhana.

Sebenarnya, dia dan beberapa perajin lain, pernah bercita-cita mengolah bahan sendiri hingga menjadi terasi siap saji dengan lebel Pacitan. Tetapi, keinginan itu belum juga pernah tercapai. Sebab, untuk mengolah hingga menjadi terasi dalam bentuk kemasan, tidak mudah.

Tidak sekadar perlu mesin giling (penghancur rebon hingga menjadi tepung), mesin cetak sampai alat kemasan. Tetapi, juga butuh ketrampilan dan manajemen, khususnya pemasarannya. ''Sebagian terasi berkualitas yang dijual di toko atau supermarket di wilayah Jawa Timur, berasal dari Pacitan,'' jelas Kusnanto.

Padahal, usaha kerajinan tersebut sudah berulang kali disurvei. Beberapa petugas di antaranya ada yang mengatakan akan memberi bantuan mesin giling. Ada pula yang menjanjikan pelatihan pembuatan terasi dan sebagainya. Namun, semua itu tak pernah terealisasi.

Kendati begitu, ada juga yang menilai keberadaannya mengganggu lantaran bau rebon yang dijemur. Bahkan, ada yang meminta pindah ke lokasi yang sudah disiapkan. Hanya saja, mereka menolak lantaran jauh dari kegiatan nelayan. Di sisi lain, lantaran jauh dari pemukiman penduduk, faktor keamanannya kurang terjaga.

Ardiyono, Vice Presiden PT El Jhon, pengelola kawasan wisata Teleng Ria tidak terlalu mempermasalahkan keberadaan mereka. Sebaliknya, justru menjadikan nelayan, pedagang dan perajin sebagai mitra pelengkap Teleng Ria. ''Sampah saja, kalau diolah bisa menjadi emas. Apalagi rebon sebagai bahan baku terasi,'' ungkapnya.

Karena itu, terkait keberadaan perajin remaan perlu perhatian semua pihak. Baik perusahaannya, masyarakat dan pemkab setempat. Sebab, jika usaha itu ditangani dengan baik, tentu menguntungkan semua pihak. Paling tidak, bagaimana cara pengolahan yang benar, sehat, bersih, dan berkualitas.***(sad)

http://www2.jawapos.co.id/radar/index.php?act=detail&rid=39560

Musim Rebon seputar Semarang February

Pesanan Melimpah, Bahan Baku Kewalahan

SEANDAINYA Sumito tak bekerja membantu mengantar pesanan udang rebon ke pasar-pasar tradisional sekitar 25 tahun lalu, mungkin ia tak akan memproduksi terasi. Belajar secara otodidak ilmu pembuatan terasi udang rebon, ia pun mengajak beberapa tetangganya untuk membuat bahan sambal itu.

Bernaung di dalam Koperasi Usaha Bersama (KUB) Mina Karya Kelurahan Tanjung Emas, Semarang Utara, pemilik home industry Terasi Cap Udang Anita ini pun mampu memproduksi paling sedikit delapan ton terasi setiap bulannya.

Dengan mempekerjakan 10 karyawan, tak hanya terasi yang dibuatnya, tetapi juga rebon kering yang selalu habis dipesan sejumlah pabrik kerupuk udang di Sidoarjo, Jawa Timur. ''Permintaan terasi selalu tinggi, terutama dari pasar-pasar tradisional di Jateng. Saya sampai kewalahan mencari bahan baku,'' ungkap Sumito.

Bahan baku udang rebon basah, kata dia, memang muncul musiman. Biasanya di akhir musim baratan , sekitar bulan Maret sampai April. Terbatasnya hasil tangkapan nelayan di Semarang, memaksanya mencari udang rebon basah hingga ke Comal, Pekalongan, bahkan sampai ke Cirebon.

"Sebenarnya bikin terasi lebih berat, karena paling tidak harus menambah kandungan air hingga 20% dari berat bersih. Lebih menguntungkan membuat udang rebon kering, karena prosesnya cepat dan harganya lebih mahal," jelasnya.

Cari Stok


Harga udang rebon kering berkisar antara Rp10.000 - Rp 11.000 per kilogram. Sementara untuk terasi hanya Rp 8.000 - Rp 9.000 per kilogram. Dia pun terus mencari pasokan udang rebon untuk memenuhi stok dan pesanan dari berbagai daerah. Harga udang rebon saat ini Rp 2.000 per kilogram.

Sumito menyebutkan, setidaknya ada enam unit usaha pembuatan terasi di daerah sekitarnya, yang tergabung dalam Koperasi Usaha Bersama (KUB) Mina Karya. Setiap hari ia bisa mengolah satu sampai tiga ton udang rebon basah. Ini tergantung sinar matahari untuk menjemurnya.

Sebenarnya sudah ada bantuan oven yang bisa mengeringkan rebon dalam tempo 4 jam -5 jam. Proses lewat oven ternyata kurang disukai konsumen, karena baunya kurang menyengat. ''Semakin bau, pelanggan makin suka karena menambah lezat masakan.''

Dia terus mengembangkan usahanya, meski secara sederhana. ''Ke depan mudah-mudahan bisa ekspor, dan saya pun sudah diberi bantuan untuk administrasi serta mesin giling, juga oven dari pemerintah. Mudah-mudahan bisa meningkatkan produksi terasi ini,'' ujarnya. (Modesta Fiska-18)

http://suaramerdeka.com/v1/index.php/read/cetak/2008/02/01/208/Pesanan-Melimpah-Bahan-Baku-Kewalahan

Nelayan Cilacap Panen Udang Rebon

Nelayan Cilacap Panen Udang Rebon
03/11/2008 09:31:45

CILACAP (KR) - Produksi udang rebon di Cilacap kini tengah melimpah, menyebabkan setiap lapangan maupun tepi jalan lingkar kota Cilacap dimanfaatkan nelayan setempat untuk menjemur udang rebon hasil panennya. Lokasi penjemuran udang rebon itupun sempat menebarkan bau busuk dan anyir jika wilayah Kota Cilacap diguyur hujan seharian akibat jemuran udang rebon itu membusuk karena basah.

Nelayan yang panen udang rebon sebagian besar beroperasi di perairan pantai Teluk Penyu Cilacap. Dalam sekali melaut, satu perahu nelayan bisa mendapatkan 1,5 ton udang rebon. “Udang berwarna kemerah-merahan dengan ukuran 20-25 milimeter itu sudah muncul sejak September lalu,” ujar nelayan Pandanarang Kastam (60) kepada KR, Minggu (2/11).

Hanya saja, pada awal November sekarang ini produksinya sangat melimpah, sehingga membuat nelayan Cilacap sangat bergairah. Sehari-harinya nelayan di dalam kota Cilacap saat ini lebih banyak memanfaatkan waktunya untuk berburu udang rebon.
“Namun kendala kami sekarang ini masalah cuaca, karena curah hujan di kota Cilacap sekarang ini cukup tinggi,” lanjutnya.

Akibatnya udang rebon hasil tangkapan nelayan yang tengah dikeringkan terkadang tidak sempat ditutupi bila terjadi hujan mendadak, yang menyebabkan jemuran udang rebon itu membusuk.

Tidak hanya itu, akibat membusuknya jemuran udang rebon itu membuat harganya menjadi jatuh. “Harga udang rebon kering dengan kualitas bagus atau super bisa mencapai Rp 8.000 per kilogram. Tetapi untuk udang kering busuk atau kualitas rendah hanya Rp 500-Rp 1.000 per kilogram,” ujar Kamin (45).

Udang rebon kualitas rendah lebih banyak digunakan nelayan setempat untuk bahan baku terasi. Sedang udang rebon kering kualitas bagus dikirim ke luar daerah.

Menurut Kamin, udang rebon yang memiliki warna merah, dengan ukuran panjang badan berkisar 20 - 25 milimeter kemunculannya kali ini menggantikan musim ubur-ubur yang biasa terjadi pada September-Oktober. Tidak jelas penyebab menghilangnya musim ubur-ubur pada tahun 2008. “Namun kami kira karena faktor alam saja, karena cuaca sekarang ini sulit ditebak,” tambahnya. (Mak)-k

http://222.124.164.132/web/detail.php?sid=182488&actmenu=38

musim rebon cilacap agustus november

PPS Cilacap, 07 Nopember 2008 – Udara yang dingin disertai hujan yang mengguyur kota Cilacap, tak menyurutkan bagi para nelayan di sekitar PPS Cilacap khususnya untuk tetap mencari nafkah di laut
.
Musim rebon di Cilacap mulai berlangsung sekitar bulan Agustus 2008 hingga hari ini (07/11/08). Puluhan bahkan ratusan kapal berukuran di bawah 10 GT hilir mudik melewati alur kaliyasa di PPS Cilacap. Beragam alat tangkap digunakan untuk mencari dan mendapatkan hasil laut yang melimpah, salah satunya adalah jaring Arad.

Dengan jaring Arad itu para nelayan berhasil mandapatkan udang rebon dengan volume rata-rata 100 Kg /kapal dengan harga Rp.1200/Kg. Sedangkan volume rebon di PPS Cilacap rata-rata sekitar 4-5 Ton / hari atau 120 ton / bulan. Untuk pemasarannya masih di wilayah Cilacap dan sekitarnya.Komoditi udang rebon sebagian besar dimanfaatkan untuk bahan baku terasi.

Rebon (Mysis) adalah jenis udang kecil yang mempunyai kulit agak keras namun tidak kaku dan pada umumnya berwarna merah. Daerah penyebarannya ada di sekitar daerah Pantai, Muara sungai dan Teluk.

source; http://chulay212.blogspot.com/2009/03/musim-rebon-di-pps-cilacap.html